Sumatera - Depary Adventure Sumatra (DAS) Tours

Go to content

Sumatera

Informasi dan ketentuan

          

Asal katanya „suma“ dan „terra“ yang berarti: Tanah hitam atau tanah subur dan juga  nama Sumatera berawal dari keberadaaan Kerajaan Samudera (terletak di pesisir timur Aceh).
Diawali dengan kunjungan Ibnu Batutah, petualang asal Maroko ke negeri tersebut pada tahun 1345, dia melafalkan kata Samudera menjadi Samatrah, dan kemudian menjadi Sumatra atau Sumatera, selanjutnya nama ini tercantum dalam peta-peta abad ke-16 buatan Portugis, untuk dirujuk pada pulau ini, sehingga kemudian dikenal meluas sampai sekarang.
Nama asli Sumatera, sebagaimana tercatat dalam sumber-sumber sejarah dan cerita-cerita rakyat, adalah "Pulau Emas". Istilah Pulau Ameh (bahasa Minangkabau, berarti pulau emas) kita jumpai dalam cerita Cindur Mata dari Minangkabau. Dalam cerita rakyat Lampung tercantum nama tanoh mas untuk menyebut pulau Sumatera. Seorang musafir dari Cina yang bernama I-tsing (634-713), yang bertahun-tahun menetap di Sriwijaya (Palembang sekarang) pada abad ke-7, menyebut Sumatera dengan nama chin-chou yang berarti "negeri emas".
Dalam berbagai prasasti, Sumatera disebut dalam bahasa Sanskerta dengan istilah: Suwarnadwipa ("pulau emas") atau Suwarnabhumi ("tanah emas"). Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi.
Naskah Buddha yang termasuk paling tua, Kitab Jataka, menceritakan pelaut-pelaut India menyeberangi Teluk Benggala ke Suwarnabhumi.
Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa.
Propinsi yang menarik untuk di kunjungi adalah:
SUMATERA UTARA
Provinsi Sumatera Utara terletak pada 1° - 4° Lintang Utara dan 98° - 100° Bujur Timur, Luas daratan Provinsi Sumatera Utara 71.680 km².
Sumatera Utara pada dasarnya dapat dibagi atas:
Pesisir timur merupakan wilayah di dalam provinsi yang paling pesat perkembangannya karena persyaratan infrastruktur yang relatif lebih lengkap daripada wilayah lainnya. Wilayah pesisir timur juga merupakan wilayah yang relatif padat konsentrasi penduduknya dibandingkan wilayah lainnya. Pada masa kolonial Hindia-Belanda, wilayah ini termasuk residentie Sumatra's Oostkust bersama provinsi Riau.
Di wilayah tengah provinsi berjajar Pegunungan Bukit Barisan.
Di pegunungan ini terdapat beberapa wilayah yang menjadi kantong-kantong konsentrasi penduduk.
Daerah di sekitar Danau Toba dan Pulau Samosir, merupakan daerah padat penduduk yang menggantungkan hidupnya kepada danau ini.
Pesisir barat merupakan wilayah yang cukup sempit, dengan komposisi penduduk yang terdiri dari masyarakat Batak, Minangkabau, dan Aceh.
Namun secara kultur dan etnolinguistik, wilayah ini masuk ke dalam budaya dan Bahasa Minangkabau.
Bagaimana untuk mencapai Propinsi ini?

TERMINAL BANDARA KUALA NAMU DIOPERASIKAN MARET 2013
Pembangunan proyek terminal Bandara Kuala Namu di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, direncanakan selesai sebelum akhir Desember 2012 dan siap dioperasikan pada Maret 2013.
Pembangunan sarana fisik gedung terminal sudah seluruhnya selesai dikerjakan dan saat ini sedang dilanjutkan penyempuranaan fasilitas mekanikal dan elektrikal.
Terminal penumpang Bandara Kuala Namu akan menerapkan konsep "open island check in" atau check in terbuka, seperti Bandara Changi di Singapura.
Melalui konsep pelayanan check in terbuka, setiap calon penumpang di Bandara Kuala Namu check in terlebih dulu baru melewati proses pemeriksaan x-ray.
Penerapan konsep pelayanan tersebut bertujuan untuk menambah kenyamanan bagi calon penumpang di bandara pengganti Bandara Polonia Medan itu.
Gedung terminal Bandara Kuala Namu memiliki luas 118.930 meter persegi (M2) dengan kapasitas terminal maksimum sebanyal 8,1 juta orang per tahun.
Sarana dan fasilitas lain di sekitar terminal yang juga sedang memasuki tahap pengerjaan akhir, yaitu apron seluas 200.000 M2 dengan daya tampung sebanyak 33 pesawat.
Gudang kargo seluas 13.000 M2 dan area parkir seluas 50.820 m2 yang mampu menampung sebanyak 407 unit taksi bandara, 55 unit bus dan 908 unit mobil.
Bandara Kuala Namu PT Angkasa Pura II mengelola pengerjaan proyek yang berkait dengan sektor privat, antara lain gedung terminal penumpang, terminal kargo, dan bangunan penunjang lainnya.
Bandara Kuala Namu oleh pemerintah diproyeksikan menjadi hub penerbangan internasional kawasan regional Asia.

Musik
Musik yang biasa dimainkan,cenderung tergantung dengan upacara-upacara adat yang diadakan, tetapi lebih dominan dengan genderangnya.
Seperti pada Etnis Pesisir terdapat serangkaian alat musik yang dinamakan Sikambang.

Arsitektur
Dalam bidang seni rupa yang menonjol adalah arsitektur rumah adat yang merupakan perpaduan dari hasil seni pahat dan seni ukir serta hasil seni kerajinan.
Arsitektur rumah adat terdapat dalam berbagai bentuk ornamen.Pada umumnya bentuk bangunan rumah adat pada kelompok adat batak melambangkan "kerbau berdiri tegak". Hal ini lebih jelas lagi dengan menghias pucuk atap dengan kepala kerbau.
Rumah adat etnis Batak, Ruma Batak, berdiri kokoh dan megah serta masih banyak ditemui di Samosir.
Rumah adat Karo kelihatan besar dan lebih tinggi dibandingkan dengan rumah adat lainnya.
Atapnya terbuat dari ijuk dan biasanya ditambah dengan atap-atap yang lebih kecil berbentuk segitiga yang disebut "ayo-ayo rumah" dan "tersek".
Dengan atap menjulang berlapis-lapis itu rumah Karo memiliki bentuk khas dibanding dengan rumah tradisional lainnya yang hanya memiliki satu lapis atap di Sumatera Utara.
Bentuk rumah adat di daerah Simalungun cukup memikat.
Kompleks rumah adat di desa Pematang Purba terdiri dari beberapa bangunan yaitu rumah bolon, balai bolon, jemur, pantangan balai butuh, dan lesung.
Bangunan khas Mandailing yang menonjol disebut "Bagas Gadang" (rumah Namora Natoras) dan "Sopo Godang" (balai musyawarah adat).
Rumah adat di pesisir barat kelihatan lebih megah dan lebih indah dibandingkan dengan rumah adat lainnya. Rumah adat ini masih berdiri kokoh di halaman Gedung Nasional Sibolga.
Tarian
Perbendaharaan seni tari tradisional meliputi berbagai jenis.
Ada yang bersifat magis, berupa tarian sakral, dan ada yang bersifat hiburan saja yang berupa tari profan.
Di samping tari adat yang merupakan bagian dari upacara adat, tari sakral biasanya ditarikan oleh dayu-datu. Termasuk jenis tari ini adalah tari guru dan tari tungkat.
Datu menarikannya sambil mengayunkan tongkat sakti yang disebut Tunggal Panaluan.
Tari profan biasanya ialah tari pergaulan muda-mudi yang ditarikan pada pesta gembira.
Tortor ada yang ditarikan saat acara perkawinan. Biasanya ditarikan oleh para hadirin termasuk pengantin dan juga para muda-mudi.
Tari muda-mudi ini, misalnya morah-morah, parakut, sipajok, patam-patam sering dan kebangkiung.
Tari magis misalnya tari tortor nasiaran, tortor tunggal panaluan.
Tarian magis ini biasanya dilakukan dengan penuh kekhusukan.
Selain tarian Batak terdapat pula tarian Melayu seperti Serampang XII.

Kerajinan
Selain arsitektur,tenunan merupakan seni kerajinan yang menarik dari suku Batak.
Contoh tenunan ini adalah kain ulos dan kain songket.
Ulos merupakan kain adat Batak yang digunakan dalam upacara-upacara perkawinan, kematian, mendirikan rumah, kesenian,dsb. Bahan kain ulos terbuat dari benang kapas atau rami.
Warna ulos biasanya adalah hitam, putih, dan merah yang mempunyai makna tertentu.
Sedangkan warna lain merupakan lambang dari variasi kehidupan.
Pada suku Pakpak ada tenunan yang dikenal dengan nama oles.
Bisanya warna dasar oles adalah hitam kecokelatan atau putih.
Pada suku Karo ada tenunan yang dikenal dengan nama uis.
Bisanya warna dasar uis adalah biru tua dan kemerahan.
Objek Wisata di Sumatera Utara.

Medan:
Provinsi Sumatera Utara memiliki ibu kota yang bernama Medan. Medan dapat diartikan sebagai tempat atau daerah pertempuran di beberapa desa/daerah yang berbeda pada saat terjadinya perang pada tempo lalu. Meliputi daerah seluas 265,10 Km². Medan merupakan pintu masuk ke Indonesia bagian barat, berbatasan dengan Malaysia yang dipisahkan dengan Selat Malaka. Medan dahulu dan sekarang adalah pusat industri dan perdagangan dengan pelayanan komunikasi yang cukup memadai ke seluruh wilayah Sumatera Utara. Sebagai pintu masuk ke Indonesia bagian barat, Bandar Udara Internasional memiliki penerbangan langsung keluar negeri dan penerbangan dalam negeri ( penerbangan domestik). Medan, sebagai pintu masuk Indonesia bagian barat mempunyai Bandar Udara Internasional Polonia yang mempunyai jalur penerbangan langsung ke Singapura, Kuala Lumpur, Penang.Medan adalah kota dimana tempat berkumpulnya bermacam-macam suku dan kebudayaan.
Ada beberapa objek wisata di kota Medan:
1.Istana Maimoon
Istana Maimoon merupakan salah satu objek wisata utama di Medan. Istana ini dibangun pada tahun 1888 oleh Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Sultan Makmun Al Rasyid diatur dari tahun 1873 untuk tahun 1924. Arsitek Ini adalah TH. Van Erp sebagai tentara KNIL. Desain-Nya menunjukkan bangunan Tradisional Melayu dan Muslim India. Sementara gaya arsitektur-nya adalah kombinasi antara Indonesia, Persia dan Eropa. Di halaman istana menemukan senjata tumpul (Meriam Puntung) sebagai legenda di Istana Maimoon.

2.Merdeka Walk

Makanan malam Fantastic lapangan tengah yang dihiasi oleh ornamen dan terletak di Merdeka Yard disebut "Merdeka Walk".
Itu memiliki areal cukup luas di bawah pohon leavy. Anda dapat menikmati bangunan bersejarah dengan arsitektur yang indah ketika Anda menikmati makan malam di tempat ini.

3.Rumah Tjong A Fie
Rumah Tjong Afie adalah sebuah gedung dengan gaya Cina kuno dan dibangun pada tahun 1900. Ini terletak di jalan Ahmad Yani (Kesawan). Dia adalah millionner pertama di Sumatera yang namanya sangat terkenal sampai sekarang althrough dia sudah meninggal dunia pada tahun 1921. Keberhasilannya diberkati karena usaha dan hubungan baik dengan Sultan Deli dan perkebunan tembakau Belanda. Sampai sekarang, rumah ini masih tinggal dengan keluarga Tjong Afie's.

4.Taman Budaya Asam Kumbang merupakan taman reptil terbesar di Indonesia. Di sini ada sekitar dua ribu empat ratus lebih reptil, termasuk buaya yang telah berumur empat puluh tahun lebih!
Terletak di Jalan Bunga Raya Kecamatan Medan Selayang No.59 Desa Asam Kumbang, lima kilometer dari pusat Kota Medan, Taman Budaya ini berawal dari hobi Lo Tham Muk pada tahun 1959 akan hewan reptil.
Taman ini buka setiap hari dari pukul 09.00 – 18.00 WIB.

Adapun objek wisata lainnya adalah:
KABUPATEN LANGKAT

1.TANGKAHAN
Kawasan ekowisata Tangkahan berjarak 100 km dari kota Medan. Dapat dicapai melalui kota Stabat dan kemudian berbelok kearah Batang Serangan. Tangkahan merupakan kawasan ekowisata yang berbasis masyarakat. Di Kawasan Ekowisata Tangkahan, pengunjung dapat menikmati atraksi Menunggang Gajah (elephant safari trek), melintasi jalur patroli pengamana hutan bersama petugas yang sekaligus juga bertindak sebagai pawang (mahot) gajah.

Pada akhir abad ke 19 dan abad ke 20 penduduk Tanah Karo mulai berpindah/ merantau kearah Langkat untuk mencari sumber penghidupan baru, beberapa kampung diperbatasan kabupaten Langkat sekarang; Pamah Semelir, Sapo Padang, sampe raya dan kampung-kampung lainnya termasuk ke kampung-kampung didekat sumber air dan sungai di kawasan Tangkaahan. secara terpencar mulai dihuni , menetap serta berkeluarga. Selanjutnya penduduk dari suku karo tersebut lebih dikenal sebagai suku Karo Jahe (Karo Gugung; suku karo di tanah karo) dan pertanian sebagai mata pencaharian pokok.
Pada 1932, pemerintah Belanda mengeluarkan 'Ordonansi cagar-cagar alam dan suaka-suaka margasatwa' (Natuurmonumnten en Wildreservatenordonnantie 1932 ) Staatsblad 1932, no 17. Pada tahun 1934, berdasarkan ZB No. 317/35 tanggal 3 Juli 1934 dibentuk Suaka Alam Gunung Leuser (Wildreservaat Goenoeng Leoser) dengan luas 142.800 ha. Selanjutnya berturut-turut pada tahun 1936, berdasarkan ZB No. 122/AGR, tanggal 26 Oktober 1936 dibentuk Suaka margasatwa Kluet seluas 20.000 ha yang merupakan penghubung Suaka Alam Gunung Leuser dengan Pantai Barat. Suaka Alam Langkat Barat, Suaka Alam Langkat Selatan dan Suaka Alam Sekundur. Kawasan Tangkahan termasuk didalam Suka Alam Langkat Barat (Natur Reservaat).
Kawasan Tangkahan pada awal abad ke 20 (tahun 1900an) merupakan kawasan hutan yang terdiri dari hutan lindung (natur reservaat) dan hutan produksi ), dimana model ladang berpindah-pindah maupun untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, kayu bakar, berburu dan lainnya merupakan bahagian dari pemenuhan kebutuhan sehari-hari dalam bingkai kearifan tradisional. Dan walaupun begitu, beberapa pengusaha dari luar memulai pengelolaan kayu pada era 1930an melibatkan penduduk lokal sebagai tenaga kerja ( generasi pertama). dan proses pengelolaan kayu dengan menggunakan alat tradisional dan diangkut ketepi sungai oleh beberapa ekor kerbau, dan dialirkan melalui sungai ke tanjung pura. Era ini merupakan langkah permulaan penduduk tersebut mencari sumber penghasilan baru selain bercocok tanam tanaman berumur panjang dengan pola Persil .Dan pada pertengahan tahun 1960 an dimulai gelombang pengelolaan kayu (generasi kedua ) yang lebih besar dengan melibatkan beberapa pemodal luar. Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk , pasokan kayu tetap didistribusikan ke kota Tanjung Pura yang merupakan hilir sungai Batang Serangan. Sisa eksploitasi kayu tersebut menjadi areal perladangan masyarakat melalui SIM ( surat Izin Menggarap ), dan komoditi Nilam adalah salah satu komoditi unggulannya, disamping itu getah mayang dan jelutung sudah mulai dipungut oleh penduduk dengan agen dari luar serta beberapa tanaman lainnya.
Tahun 1978 - 1980 an, ditandai dengan era tanaman-tanaman perkebunan berskala besar terkait dengan kebijakan PRPTE Pemerintah untuk meningkatkan sektor non migas (pasca masa boom minyak) dan kawasan ini dibuka menjadi areal Perusahan Perkebunan milik negara. Dan kehidupan mulai berubah dengan adanya jalan penghubung melalui darat, berbaur dengan suku jawa dan suku-suku lainnya yang hadir seiring dengan adanya perkebunan Kelapa sawit tersebut. Dan era ini ditandai dengan perubahan pola bercocok tanam kepada tanaman perkebunan (karet, kelapa sawit dan coklat ) secara lebih intensif. Dan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, pembukaan areal hutan untuk perkebunan semakin luas dan ditetapkannya kawasan hutan tersebut menjadi Taman Nasional pada awal 1980 tidak mampu menghentikan aktivitas pengambilan kayu yang sudah tidak terbatas antara kawasan Hutan Produksi atau Taman Nasional. Serta selama puluhan tahun aktivitas pengambilan kayu sudah merupakan sistem nilai yang menjadi kebiasaan penduduk.
Dan pada era ini, pembelian kayu tidak lagi dimonopoli oleh beberapa orang tetapi secara bebas apabila pemodal memiliki uang yang cukup serta barisan pelindung maupun memiliki tenaga kerja yang handal dapat menentukan ancak (wilayah tebangan). Fenomena ini membangun partisipasi luas pencurian kayu melalui jalur sungai dan darat. Dan membuka persaingan ketat diantara mereka sendiri dan menguntungkan bagi aparat pelindungnya. yang mendorong perpecahan demi perpecahan diantara cukong kayu dan para spekulan tanah dalam pembahagian wilayah pembalakan kayu dan perambahan, sehingga terbentuk kelompok-kelompok dengan batas teritorial dan perlindungan masing-masing. Dan sangat sering terjadi konfrontasi dan konflik horizontal yang disisi lain menguntungkan bagi oknum pemerintah (Polisi hutan/aparat), walaupun akhirnya diantara mereka terjadi juga tarik menarik yang cukup kuat dilapangan. pada pertengahan 1980 s/d 1990-an Sebahagian kelompok dominan (illegal logger) dengan cukong/pemodal baru merambah ancak wilayah penebangan kelompok lain menyebabkan konflik horizontal dan sebahagian diproses hukum (ditangkap petugas yang memiliki benang merah atas laporan kelompok ilegal logging lain yang mau merebut wilayah penebangan) fenomena-fenomena seperti itu sering terjadi diwilayah ini, dimana konflik selalu terjadi dengan menggunakan pihak ketiga dan sistem nilai yang berlaku adalah pembatasan ruang nilai lebih dari orang lain secara zig zag sosial (pengistilahan; Cianisme) dimana pranata sosial yang begitu lentur, fleksibel, terpencar dan menutup diri terhadap orang luar akan tetapi menyatu dan saling membuka diri didalam benang merah maupun penyelesaian secara adat istiadat maupun oleh tokoh yang dituakan. proses tersebut terus berdinamika, sehingga posisi relasi permanen sampai kapanpun tidak bisa ditentukan; akan tetapi dapat disatukan dalam proses arih-arih (musyawarah) maupun simpul tokoh - tokoh yang dihormati secara adat dan sosial melalui ikatan dan benang merah kepentingan. Baik kepentingan umum maupun pribadinya.
Akhir 1980an, beberapa tokoh l bebas dari penjara (kasus illegal logging), sebahagian meneruskan aktivitasnya dan sebahagian lagi menginisiatif membuka object wisata yang selanjutnya diikuti oleh beberapa tokoh masyarakat dan pemuda didusun setempat ; Kuala Gemoh dan Kuala Buluh (Desa Namo Sialang), dengan berjualan makanan dan minuman di lokasi, serta jasa penyeberangan sungai, pengamanan jasa parkir kendaraan maupun kegiatan-kegiatan lain yang berskala kecil-kecilan. Kepala Desa Namo Sialang saat itu menerapkan Retribusi Desa melalui karcis masuk dan dilakukan hiburan-hiburan musik tradisional. arus kunjungan wisatawan lokal meningkat secara signifikan (mass tourism, 2.000 kunjungan / minggu, awal 1990an). Seiring dengan peningkatan jumlah kunjungan, diikuti pula oleh konflik aset. Dimana masing-masing kelompok sosial secara bergantian merebut ancak dari pendapatan wisata, silih berganti yang memegang kendali di kawasan pariwisata Tangkahan saat itu. Dan kelompok yang dirugikan akan melakukan hal-hal yang mempermalukan kelompok yang menang sehingga sering terjadi; pungutan liar, pencurian maupun hal-hal lainnya. Yang bukan dilakukan oleh penduduk setempat tetapi oleh penduduk luar. Dan pada era awal tahun 1990an : terjadi polarisasi konflik yang cukup rumit, dimana terjadi konflik internal antara Pariwisata itu sendiri dan konflik perebutan wilayah diantara pelakunya yang masih beraktivitas dengan leluasa saat itu. Dan antara illegal logging dan Pariwisata tidak memiliki garis tarik menarik maupun tolak menolak.
Seiring dengan itu, pemandu wisata dari Bukit Lawang mulai membawa tamu mancanegara melalui hutan (jungle track), dan seiring dengan itu pula beberapa warga negara asing yang memiliki suami pemandu wisata di Bukit Lawang mulai menginvestasikan akomodasi (Penginapan Bamboo River 1995, Penginapan Jungle Lodge 1997) dan arus wisatawan yang melalui jalur hutan mulai bersinggungan dengan aktivitas ilegal logging. Dan sejak itu wacana maupun berita tentang Ilegal logging mulai sampai kedunia internasional seiring dengan promosi kawasan Tangkahan yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Beberapa kali terjadi konflik didalam hutan antara pemandu wisata dan pelaku illegal logging. Sementara aktivitas pariwisata masih terus berjalan dengan tarik menarik yang cukup kuat dalam pengelolaannya.
Akhir 1999, tokoh-tokoh masyarakat dari desa di sekitar kawasan Tangkahan memberikan informasi yang sangat vital untuk melakukan operasi dan mengumpulkan para wisatawan , pemandu wisata dan tokoh-tokoh masyarakat Bukit Lawang mufakat merumuskan agenda bersama untuk pemberantasan illegal logging. Beberapa kali proses investigasi dilakukan dan pada januari tahun 2000 terbentuklah Front Peduli Lingkungan Hidup (FPLH). Awal maret tahun 2000, dilakukan aksi unjuk rasa pertama kali ke Kantor Wilayah Kehutanan Sumatera Utara di Medan dengan melibatkan puluhan wisatawan dan wartawan asing, masyarakat Bukit Lawang dan pelajar-pelajar Sekolah menengah Umum di Medan serta dukungan berbagai kelompok gerakan mahasiswa. Aksi ribuan demonstran tersebut membangunkan 29 LSM Sumatera Utara dan Aceh untuk bangkit menggugat Pemerintah dan membentuk KPLH-KEL . Departemen Kehutanan tersentak dan segera menurunkan Soeripto (Sekjend Departemen Kehutanan saat itu ) untuk melakukan peninjauan langsung dengan pesawat disekeliling Leuser dan merekomendasikan operasi gabungan diberbagai tempat secepatnya.
Operasi gabungan yang terjadi di Tangkahan, melahirkan konflik horizontal antara pelindung Ilegal logging dengan pemiliki penginapan yang ditempati para aparat pada saat operasi terjadi. Dan konflik tersebut membawa ratusan pemuda dari luar, secara langsung dan tidak langsung meredam seluruh konflik yang terjadi. Baik konflik tentang Pariwisata maupun konflik tentang Ilegal logging itu sendiri. Dan berbagai aktivitas di Tangkahan saat itu terhenti total selama beberapa waktu. begitu juga aktivitas FPLH di Medan dan Bukit Lawang terhenti total karena penyelesaian permasalahan telah dibawa oleh KPLH_KEL melalui proses litigasi dan peradilan. Sementara itu Kepala Balai TNGL Saat itu (Ir. Adi Susmianto,MSc ) menginisiatif suatu strategi baru kepada masyarakat sekitar hutan " Hutan A dikelola oleh Masyarakat Desa A " bersama-sama dengan Balai TNGL secara legal formal.
Kebangkitan Pariwisata kembali bermula dan dipelopori oleh Pemuda dan Pemudi di Desa Namo Sialang dan Desa Sungai Serdang yang menginginkan perubahan social dan ekonomi, obsesi modernisasi, dengan pengembangan pariwisata maka dibentuklah Tangkahan Simalem Ranger pada 22 April 2001 sebuah perkumpulan yang mempelopori pengembangan bukan hanya sungai tetapi hutan dapat menjadi tempat Pariwisata seperti di Bukit Lawang dan berbagai aktivitas-aktivitas pembalakan kayu dan perambahan yang dilakukan oleh orang tua mereka sendiri ) harus dihentikan . Gerakan pemuda - pemudi tersebut berubah menjadi sebuah Gerakan social di desa Namo Sialang dan desa Sei.Serdang, dimana mereka aktif dalam aktivitas sosial desa, musyawarah maupun berbagai kegiatan adat. Yang akhirnya menarik simpati kalangan orang tua, melibatkan berbagai lapisan masyarakat , mendorong terciptanya sebuah gagasan baru. Dan gerakan ini mempengaruhi banyak pola pikir baru masayarak tentang nilai-nilai keorganisasian
Akhirnya pada tanggal 19 Mei tahun 2001 atas inisiatif Tangkahan Simalem Ranger berkumpulah pemimpin-pemimpin kelompok Penebang , perambah dan tokoh-tokoh masyarakat dan perangkat Desa Namo Salang dan Desa Sei.Serdang yang kemarin terlibat konflik secara langsung maupun tidak langsung dan bersepakat untuk mengembangkan Pariwisata. Dan menetapkan beberapa tokoh sebagai Dewan Pengurus . Dan musyawarah ini kemudian disebut sebagai Kongres I Lembaga Pariwisata Tangkahan dengan melalui proses pemungutan suara untuk memilih Dewan Pengurus, AD/ART dan menyusun dasar-dasar pengembangan Pariwisata. Dan hari itu disebut sebagai Kongress I dan merupakan tonggak penting dalam pelestarian Taman Nasional Gunung Leuser dikemudian hari oleh masyarakat sekita hutan. Dan merupakan prestasi Pemuda - pemudi local dalam Tangkahan Simalem Ranger yang saat itu hanya berpikir sederhana tentang pariwisata bukan pada aspek luas lainnya..
Seiring waktu berjalan, Karena objek wisata yang cukup menarik semua terdapat di dalam Taman Nasional, maka Lembaga Pariwisata Tangkahan menyepakati sebuah bentuk kerjasama (MoU) dengan Balai Taman Nasional Gunung Leuser dan ditandatangani pada 22 April 2002 oleh Kepala Balai TNGL saat itu (Ir. Awriya Ibrahim,MSc ) selaku pemangku Kawasan untuk memberikan hak kelola Taman Nasional kepada masyarakat Desa Namo Sialang dan Desa Sei.Serdang melalui Lembaga Pariwisata Tangkahan (Bapak Njuhang Pinem ) sebagai ketua umum Lembaga Pariwisata Tangkahan dimana penandatanganan tersebut merupakan hal yang cukup berani dilakukan pada saat itu karena merupakan suatu property right (Aset kolektif ) seluas kurang lebih 17.500 ha zona Inti TNGL (batas administrative desa ) untuk pengembangan Ekowisata . Dan sebagai kewajibannya masyarakat desa Namo Sialang dan Masyarakat desa Sei.Serdang bertanggung jawab penuh didalam pengamanan dan kelestarian Taman Nasional Gunung Leuser yang berbatasan dengan wilayah desa tersebut. Dan seiring waktu berjalan kekhawatiran banyak pihak tentang penandatanganan tersebut tidak terbukti, malah dapat menjadi moment penting di TN. Gunung Leuser selanjutnya untuk menginisiasi kolaborasi managemen sebelum diterbitkannya P.19 / Tahun 2004 tentang kolaborasi managemen kawasan KPA dan KSA. Dan kini acuan kolaborasi tersebut serta berbagai sistem dan strategi pengembangan kawasan telah banyak diadopsi ditingkat nasional dan internasional.
Akan tetapi, proses penandatangan MoU tersebut bukan dapat secara langsung menghentikan berbagai aktivitas Ilegal logging, perambahan maupun aktivitas perusakan sumber daya alam lainnya. Akan tetapi selalu dihiasi oleh konflik demi konflik ditingkat lokal, hingga dilakukan beberapa kesepakatan secara formal dan informal serta beberapa komitmen sosial . Dan sepanjang tahun 2002 merupakan masa yang paling sulit dalam beberapa waktu berjalan untuk proses penyesuaian dan integrasi sosial antara LPT dengan berbagai kelompok-kelompok lain. Hingga dicapai kesepakatan untuk melaksanakan Kongres ke II pada awal tahun 2003. Dan dukungan berbagai pihak diundang untuk membantu proses pengembangannya; seperti Kelompok - kelompok Pecinta Alam, Pramuka, Organisasi Non Pemerintah dan para mahasiswa-mahasiwa dari berbagai kemampuan dan keterampilan yang dimiliki untuk membantu masyarakat . UML dan INDECON membantu dalam perumusan Rencana Induk Pengembangan ( RIP) dan Fauna Flora Internasional melakukan program patroli gajah untuk mendukung pengamanan kawasan.Disamping peranan utama dari Balai TNGL dan Dinas Kehutanan, Dinas Pariwisata Kabupaten Langkat.
Kongres LPT ke II tahun 2003, merupakan moment bersejarah untuk merubah LPT sebagai organisasi terbuka untuk seluruh masyarakat di dua Desa, dimana seluruh penduduk adalah merupakan anggota LPT yang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Dimana didalam proses Restrukturisasi, Tangkahan Simalem Ranger masuk menjadi salah satu Departemen LPT. Pemuda-pemuda dan tokoh sosial yang berpengaruh terpilih sebagai kepengurusan untuk tahun 2003-2006. Dan dirumuskannya XIX BAB dan 55 pasal Peraturan Desa tentang Undang-Undang Kawasan Ekowisata Tangkahan yang mengatur seluruh sendi-sendi kehidupan sosial, pelestarian sumber daya alam, ekonomi lokal, peranan pemuda, adat, agama dan penataan ruang kawasan dalam pengembangan ekowisata. Dan peraturan desa ini merupakan Peraturan desa yang pertama disusun secara partisipatif yang mengatur tentang konservasi dan pranata sosial secara langsung, sebelum diadopsi kebanyak tempat. Dan tahun 2003 juga ditandai dengan penandatangan pembahagian PERMIT/SIMAKSI ( PNBP) antara Kepala Balai TNGL saat itu ( Ir. Hart Lamer Susetyo ) dengan Ketua Umum LPT Periode 2003-2006 (Bp. Njuhang Pinem) dan juga dukungan pembangunan fisik dan sarana prasarana yang pertama kali dilaksanakan. Disamping dukungan dari INDECON, FFI dan UML serta berbagai NGO dan Pemka. Langkat.
Dan awal tahun 2006, ditandai dengan Kongres ke III LPT, penandatangan MoU tahap ke II yang merupakan penguatan daripada MoU 22 April 2002 ditandatangani pada 23 Juli 2006 antara Kepala Balai TNGL (Ir. Wiratno,MSc) dan Ketua Umum LPT (M.Tanden Bangun). dimana berdasarkan P.19 / 2004 LPT secara kolaborasi dapat memanfaatkan berbagai jasa lingkungan dari TNGL. Dan LPT membentuk Badan Usaha Miliki Lembaga (BUML) untuk mengelola jasa lingkungan tersebut. Dan dimulailah era integrasi antara ekonomi dan ekologi di kawasan Ekowisata Tangkahan dalam semangat kolaborasi untuk melahirkan gelombang besar perubahan di TN.Gunung Leuser.
2. BUKIT LAWANG
Saat ini makin sulit menemukan satwa yang dilindungi di alam bebas, misalnya orangutan. Satwa langka ini hanya bisa ditemui di beberapa titik di Indonesia. Selain Tanjung Puting di Kalimantan, orangutan yang masih hidup bebas berada di hutan Gunung Leuser.

Kawasan wisata Bukit Lawang berada di Sumatera Utara dan merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Leuser yang membentang dari Sumatera Utara hingga Aceh. Objek wisata ini sudah lama dikenal oleh masyarakat sekitar namun pernah rusak parah akibat banjir besar pada tahun 2003.
Bukit Lawang sempat rusak parah akibat banjir besar/bandang.
Memang, objek utama di Bukit Lawang adalah Sungai Bahorok — atau sering disebut Sei Bahorok. Sungai besar dengan hutan lebat di sisi kanan kirinya menjadikan tempat ini favorit bagi mereka yang ingin melarikan diri dari kesibukan kota besar.

Anda bisa menjelajahi hutan hingga sampai di Tangkahan, sebuah objek wisata menarik lainnya di Sumatera Utara. Bila Anda seorang petualang tangguh, mungkin Anda ingin melakukan jelajah hutan hingga ke Ketambe di wilayah Aceh bagian selatan. Karena keterbatasan waktu karena sedang melakukan backpacking lintas Sumatera Utara dalam waktu beberapa hari saja, saya hanya melakukan jelajah hutan satu hari.

Hutan hujan tropis yan  masih cukup lebat, kicau burung terdengar bersahutan. Ranting berderak patah terinjak kaki-kaki kami. Beberapa kali kami harus melewati sungai kecil yang mengalir di tengah hutan.

Bertemu orangutan liar, sebuah pengalaman menyenangkan. Perjalanan memakan waktu sekitar 40 menit hingga  sampai di Gua Kampret. Gua tersebut tidak begitu besar namun cukup menarik.

Selain perjalanan ke Gua Kampret, wisatawan dapat memilih trekking ke Panorama Point, dengan jalur yang lebih sulit. Ada beberapa jalur lain yang dapat diikuti tergantung minat dan stamina Anda.

Mungkin Anda hanya ingin bermalas-malasan? Bukit Lawang juga lokasi yang tepat untuk bersantai. Kebanyakan penginapan di lokasi ini menerapkan konsep eco-lodging. Banyak di antaranya yang menyediakan tempat tidur gantung di beranda, sehingga Anda dapat bersantai sambil menikmati hijaunya pemandangan.

Anda juga dapat melakukan berbagai aktivitas seperti bermain air di sungai, tubing, memancing, serta bersosialisai dengan masyarakat setempat. Di sore hari, menikmati kopi tentu sangat menyenangkan.

Ayo berkenalan dengan orangutan di habitatnya!

KABUPATEN TANAH KARO
Air Panas Semangat Gunung

Obyek wisata ini sebagai tempat pemandian air panas alam yang telah dikelola secara profesional dalam bentuk kolam–kolam renang yang suhunya berbeda–beda sesuai dengan keinginan para wisatawan. Mata air ini bersumber dari perut bumi dan mengandung unsur belerang yang dapat mengobati penyakit gatal–gatal. Jarak dari kota Berastagi ke obyek wisata ini 13 Km dan dapat menggunakan bus ukuran kecil atau besar.

Air Panas Lau Debuk-debuk

Obyek wisata ini merupakan pemandian air panas yang mata airnya bersumber dari perut bumi, mengandung unsur belerang, dapat mengobati penyakit gatal–gatal dan biasa dibuat sebagai pengganti mandi sauna. Pada waktu–waktu tertentu ada kegiatan ritual seperti : Erpangir Ku Lau (mandi ritual) yang bertujuan membersihkan diri dari roh – roh jahat dan niat – niat yang tidak baik. Jarak dari Kota Berastagi ke obyek wisata ini 10 Km dan dapat menggunakan bus ukuran besar.
Air Terjun Sipiso-piso

Air terjun ini mempunyai ketinggian jatuh 120 m dan dilatarbelakangi panorama indah Danau Toba, bukit-bukit, bentangan Pulau Samosir berwarna biru, pematang sawah dan ladang. Jarak dari kota Berastagi ke obyek wisata ini 35 Km dan dapat menggunakan bus ukuran kecil dan besar.
Objek wisata ini berada di Kecamatan Merek, berada cukup dekat dengan objek wisata lainnya (seperti Tongging dan Danau Toba), sehingga berpotensi dikembangkan sebagai suatu kawasan wisata (khususnya wisata alam).
Peluang Usaha:
Pembangunan hotel dan restoran, pembangunan rest area dan agrotourism, pembangunan sarana rekreasi cable car.
Gunung Sibayak

Gunung Berapi Sibayak dalam keadaaan aktif berlokasi di atas ketinggian 2.172 m dari permukaan laut. Pendakiannya melewati hutan belantara tropis dan tebing yang penuh tantangan serta di puncak gunung terdapat hamparan dataran tempat berkemah. Dari puncak gunung terlihat kawah yang masih aktif mengeluarkan magma dan pemandangan yang indah dan menawan. Jarak dari Kota Berastagi ke tempat awal pendakian dari Desa Jaranguda 1,5 Km dari Desa Raja Berneh 15 Km. Lama pendakian diperkirakan lebih kurang 2 sampai dengan 3 jam.
Danau Lau Kawar

Danau ini memiliki luas lebih kurang 200 Ha diapit oleh alam pegunungan yang ditumbuhi kayu–kayuan hutan tropis dan dipinggir danau terbentang lahan seluas 3 Ha sebagai lokasi tempat berkemah. Bagi wisatawan yang berjiwa petualangan, dari obyek ini dapat melakukan kegiatan panjat tebing dan sekaligus pendakian ke puncak Gunung Sinabung melewati hutan belantara. Jarak dari Kota Berastagi ke obyek wisata ini 27 Km dan dapat menggunakan kenderaan roda empat melewati beberapa desa dan lahan pertanian (Agro Wisata).
Tongging

Tongging adalah tempat yang nyaman untuk santai dan juga merupakan tempat yang menarik untuk dikunjungi. Terletak di sebelah ujung utara Danau Toba dengan pemandangan yang sangat indah. Jalan yang curam dan berliku-liku dari Merek. Dari sebelah kanan jalan ini, kita dapat melihat keindahan air terjun Sipiso-piso.Tongging berada di tengah-tengah daerah yang didiami tiga suku Batak Toba, Pakpak dan Karo yang bercampur baur dan menggunakan bahasa lokal dengan menggunakan bahasa dari ketiga suku tersebut.
Rumah adat Karo di desa Lingga

Desa Lingga memiliki bangunan tradisional seperti: rumah adat, jambur, geriten, lesung, sapo page (sapo ganjang)dan museum karo. Geriten, digunakan sebagai tempat penyimpanan kerangka jenazah keluarga atau nenek (leluhur)sang pemilik. Rumah adat karo mempunyai ciri serta bentuk yang sangat khusus, didalamnya terdapat ruangan yang besar dan tidak mempunyai kamar-kamar. Satu rumah dihuni 8 atau 10 keluarga. Rumah adat berupa rumah panggung, tingginya kira-kira 2 meter dari tanah yang ditopang oleh tiang, umumnya berjumlah 16 buah dari kayu ukuran besar. Kolong rumah sering dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan kayu dan sebagai kandang ternak. Rumah ini mempunyai dua buah pintu, satu menghadap ke barat dan satu lagi menghadap ke sebelah timur. Di depan masing-masing pintu terdapat serambi, dibuat dari bambu-bambu bulat (disebut ture). Ture ini digunakan untuk tempat bertenun, mengayam tikar atau pekerjaan lainnya, pada malam hari ture atau serambi ini berfungsi sebagai tempat naki-naki atau tempat perkenalan para pemuda dan pemudi untuk memadu kasih. Atap rumah dibuat dari ijuk. Pada kedua ujung atapnya terdapat anyaman bambu berbentuk segitiga, disebut ayo-ayo. Pada puncak ayo-ayo terdapat tanduk atau kepala kerbau dengan posisi menunduk ke bawah. Rumah adat Karo dinamakan siwaluh jabu (waluh = delapan, jabu = keluarga/ bagian utama rumah/ ruang utama). Bangunan berbentuk rumah panggung itu, pada waktu dulu kala menjadi rumah tinggal masyarakat Karo. Tiang-tiang penyangga rumah panggung, dinding rumah, dan beberapa bagian atas, semuanya terbuat dari kayu. Bagian semacam teras rumah -juga berbentuk panggung-, tangga naik ke dalam rumah, dan penyangga atap, terbuat dari bambu. Sedangkan atap rumah sendiri, semuanya menggunakan ijuk. Di bagian paling atas atap rumah adat, kedua ujung atap masing-masing dilengkapi dengan dua tanduk kerbau. Tanduk itu dipercaya penduduk sebagai penolak bala. Satu rumah ditinggali oleh lebih dari satu KK (kepala keluarga), dalam satu ruangan besar.
Dapur bagi masyarakat Karo juga mempunyai arti. Tungku tempat menaruh alat memasak, terdiri atas lima buah batu. kelima batu menandakan adanya lima marga dalam suku Karo yang mendiami Lingga, yakni Karo-Karo, Ginting, Sembiring, Tarigan, dan Peranginangin.
Selain rumah siwaluh jabu, bangunan-bangunan tradisional Karo yang ada atau pernah ada di Desa Lingga adalah kantur-kantur, sapo ganjang, griten, lesung, Museum Lingga . Rumah adat-rumah adat ini menjadi pelengkap dari satu komunitas masyarakat Karo dahulu kala. Seperti juga siwaluh jabu, semua bangunan ini berbentuk rumah panggung.
KABUPATEN SIMALUNGUN
PARAPAT
Parapat terletak di tepi Danau Toba dengan jarak  76 Km dari Medan. Beriklim tropis dengan udaranya yang sejuk merupakan salah satu daerah tujuan wisata utama di Sumatera Utara dan Kota Parapat sebagai pusat kegiatan setiap diadakan acara penting Pariwisata seperti Pesta Danau Toba.
TIGARAS
Tigaras adalah salah satu objek wisata yang menjadi salah satu pilihan di Kabupaten Simalungun.  Tigaras terletak di Kecamatan Dolok Pardamean Kabupaten Simalungun, dengan jarak  48 Km dari Kota Pematangsiantar. Dari Tigaras dapat kita nikmati pemandangan Danau Toba dari sudut yang berbeda.
Selain Danau Toba, Keindahan yang dapat kita nikmati dari Tigaras juga dapat kita lihat Pulau Samosir dari pinggir danau.  Tigaras Juga Memiliki beberapa Hotel yang nyaman dan berada dipinggir danau. Nilai tambah dari Tigaras adalah tempatnya yang masih asri dimana belum begitu banyak pengunjung yang datang sehingga nilai eksotikanya masih terjaga. Penduduknya yang ramah juga menjadi ciri khas dari tempat wisata ini.
Rumah Bolon, Pematang Purba
Sampai di mana perkembangan peradaban sebuah komunitas barangkali dapat ditelusuri lewat kebudayaannya. Dan setidaknya hal inilah yang dapat tergambarkan ketika menjelajahi Rumah Bolon di Desa Purba Kabupaten Simalungun. Ia sekaligus menjadi bukti sejarah eksistensi Kerajaan Purba Simalungun yang sudah berdiri sejak abad ke-15.

Menjelajahi kawasan Simalungun adalah pengalaman tersendiri. Masing-masing bisa memberi kesan tentangnya. Apalagi memasuki Desa Purba, desa kecil di Kecamatan Pematang purba Kabupaten Simalungun.

Jarakanya kira-kira 140 kilometer dari Kota Medan, setelah melalui Kabupaten Karo (Berastagi-Kabanjahe- Merek). Lalu melewati persimpangan menuju Haranggaol dan tibalah Anda di desa yang mayoritas dihuni etnis Simalungun itu. Tetapi, Anda juga bisa memilih akses lain, yakni dengan melalui Kota Pematangsiantar yang jarakya hanya kira-kira 54 kilometer dari sana.

Konon, dulu Desa Purba dikenal sebagai salah satu pusat pemerintahan kerajaan tertua di Simalungun, yaitu Kerajaan Purba yang hingga akhir kekuasaanya, terhitung ada 14 raja yang pernah memegang tampuk kekuasaannya. Jadi jelaslah bahwa kerajaan ini bukanlah satu-satunya kerajaan yang pernah ada di wilayah Simalungun.

Sejarah mencatat, ada lima kerajaan besar yang masing-masing menguasai wilayahnya sendiri-sendiri yang di antaranya tersebar di beberapa wilayah: Siantar, Panambean, Tanah Jawa, Pematangraya dan Purba. Wilayah ini kemudian didiami oleh marga-marga tertentu pula, seperti Saragih, Manik, Sinaga dan Purba sendiri.

Rumah Bolon Pematangpurba sendiri merupakan kediaman Raja Purba yang pertama kali diduduki Tuan Pangultop-ultop (1624-1648), yang kemudian diteruskan secara turun-temurun dengan sebuah tradisi budaya setempat. Raja terakhir yang memimpin adalah Raja Tuan Mogang, yang konon jasadnya hingga kini belum ditemukan. Disinyalir ia dibunuh ketika revolusi sosial berlangsung di Simalungun pada tahun 1947.

“Tak diketahui siapa pembunuhnya dan apa pula motifnya,” ujar Wanson. penjaga sekaligus pemandu wisatawan, lokasi bangunan tua yang berdiri di atas lahan seluas 1 hektar itu.
Mengenai tradisi pengalihan kekuasaan, Wanson menjelaskan ada semacam tradisi pengalihan kekuasaan yang wajib dilakukan. Ketika raja hendak mewariskan kekuasaannya, diwajibkan untuk menyembelih seekor kerbau, yang lalu tanduknya disimpan agar kelak menjadi bukti untuk raja yang akan berkuasa kemudian. Setidaknya bukti sejarah itu masih dapat terlihat di mana ada 14 tanduk kerbau yang tergantung di dinding ruangan Rumah Bolon.

Lalu, apa dasar pengalihan kekuasaan itu? Seperti lazimnya dalam tradisi kerajaan yang meneruskan kekuasaan pada anak sulung, maka prinsip itu tidaklah mutlak dalam tradisi Kerajaan Purba. “Bukan harus anak sulung, tetapi siapa keturunan yang bagi raja memiliki talenta untuk menjadi pemimpin, maka ialah yang diangkat sebagai penerus kerajaan,” ujar Wanson.

Politik kekuasaan
Sebenarnya, raja yang mula-mula berkuasa di Kerajaan Purba bukanlah Tuan Pangultop-ultop, melainkan Raja Purba Dasuha. Tuan Pangultop-ultop sendiri pada awalnya hanyalah pendatang yang datang dari wilayah Dolok Sanggul yang konon disinyalir berdekatan dengan wilayah Pakpak Bharat sekarang.

Lantas, mengapa ia kemudian menjadi raja? Ini masih berdasarkan penuturan Wanson Purba, yang juga merupakan pegawai dinas pariwisata Kabupaten Simalungun yang dihunjuk untuk mengawasi bangunan tua itu. Ia menjelaskan, kedatangan Tuan Pangultop-ultop ke wilayah Purba awalnya dikarenakan kegemarannya menangkap burung yang kemudian mengantarkannya ke kawasan Purba.

Konon, suatu ketika di wilayah hutan belantara Purba, ia berhasil menangkap seekor burung Nanggordaha yang kemudian dari tembolok burung itu (terdapat biji padi dan jagung), ia mendapatkan makanannya sendiri. Ketika ia melihat bahwa Purba adalah negeri yang subur, maka ia pun memohon kepada Raja Purba Dasuha untuk diberikan sebidang tanah. Tanah itu kelak ia tanami dengan biji padi dan jagung yang ia dapat dari tembolok burung itu. Ini jugalah yang menghantarkan Pangultop-ultop kepada kejayaan. Hasil panen yang melimpah dari sebidang tanah atas kebaikan raja itu, ia simpan di sebuah lumbung besar.

Suatu waktu muncullah masa paceklik yang mengakibatkan penduduk kewalahan mencari makanan. Mengetahui Pangultop-ultop memiliki banyak menyimpan padi dan jagung di lumbungnya, mereka pun lalu memintanya agar memberikan padi dan jagung yang selama itu ia kumpulkan.

Hanya saja, ia tak mau memberi jika mereka hanya memanggilnya dengan sebutan “oppung” (kakek atau orang yang dihormati), melainkan panggilan raja. “Jangan panggil aku oppung jika ingin mendapatkan padi dan jagung dari saya, tapi panggillah saya raja,” katanya.

Mereka pun memanggilnya demikian, yang lantas diketahui oleh Purba Dasuha. Merasa pengakuan terhadap dirinya terancam tidak diakui lagi, maka Purba Dasuha pun mengadakan pertemuan dengan Pangultop-ultop. “Jika kamu memang raja, maka buktikanlah,” katanya, seperti yang ditirukan Wanson.

Hal ini kemudian dituruti Pangultop-ultop dengan mematuhi peraturan yang ditetapkan Purba Dasuha. “Marbijah” (disumpahi) adalah prosesi yang menjadi langkah pembuktian itu. Segenggam tanah, air dan “appang-appang” (kulit kerbau) adalah medianya. Maka, Pangultop-ultop kembali ke tanah asalnya untuk mendapatkan ketiganya. Segenggam tanah lalu ditabur, dilapisi appang-appang dan di sampingnya ditaruh air yang tertuang dalam tatabu (sejenis tempayan air yang terbuat dari kulit labu). Disaksikan oleh rakyat, lalu Pangultop-ultop bersumpah di hadapan Purba Dasuha dan para ulubalang, katanya, “jika tanah dan air yang aku duduki ini bukanlah milikku, maka sekarang juga aku matilah.” Pangultop-ultop pun kemudian meminun air itu. Waktulah yang kemudian menjawabsumpah itu. Meski sudah melewati hari, minggu, bulan hingga tahun, namun Pangultop-ultop tidak mati seperti lazimnya sebuah sumpah yang mengandung kebohongan maka maut adalah imbalannya. Dan waktu jugalah yang menentukan peralihan kekuasaan itu. “Kuakui, sekarang kamulah raja yang pantas memimpin Kerajaan Purba, sebab sumpahmu tak berbala,” kata Purba Dasuha kemudian.

Sejak saat itu Pangultop-ultop resmi diangkat menjadi raja, tepatnya pada 1624, yang lalu memimpin hingga 1648. Sedang raja terdahulu --Purba Dasuha-- masih dianggap sebagai raja, hanya saja ia tidak lagi memerintah. Lalu setelah membalik kembali kisah itu, benarkah ada unsur politis di sana? Sekali lagi ini adalah pengungkapan fakta dari seorang Wanson Purba, yang juga merupakan keturunan Raja Kuraha (panglima raja) Tuan Pangultop-ultop semasa kepemimpinannya. Ia sendiri mengetahui kisah itu dari ayahnya, P Purba yang selama 43 tahun telah menjaga Rumah Bolon.

Wanson pun tak menepis hal itu. “Sebenarnya jika ditelaah, Pangultop-ultop dengan demikian sudah mempraktekkan politik kekuasaan,” katanya. “Pasalnya, tanah dan air serta appang-appang yang digunakan sebagai media sumpah dibawa sendiri olehnya dari tanah asalnya, sehingga memungkinkan ia selamat dari maut.”
KABUPATEN DAIRI
Taman Wisata Iman Sidikalang

Dairi adalah salah satu Kabupaten di Sumatera Utara dengan Luas wilayah 230.000 hektar dan jumlah penduduk 270.000 jiwa. Dairi terkenal sebagai penghasil kopi di dunia dengan nama generik Kopi Sidikalang. Dairi juga memiliki kekayaan sumber daya alam seperti pertambangan zeng dan Timah Hitam yang merupakan tambang terbesar di dunia dengan jumlah deposit 20 juta ton. Selain subur dan memiliki potensi tambang, Dairi juga memiliki panorama alam yang sangat indah seperti Pantai Silalahi yang berada di kawasan Danau Toba bagian barat. Dan saat ini pemerintah Kabupaten Dairi membangun fasilitas wisata iman di perbukitan sitinjo 10 km sebelum kota Sidikalang.

Dilokasi Taman Wisata Iman dengan luas 130.000 m2 , anda dapat menyaksikan sederetan patung Nabi-nabi yang diceritakan oleh Kitab Suci. Gedung pertama yang akan anda jumpai saat memasuki taman ini adalah sebuah Vihara Budha yang besar yang besar dan megah. sebuah patung Budha setinggi 5 meter terbuat dari batu asli berada di dalam Vihara tersebut. selanjutnya, anda akan menjumpai patung yang menggambarkan Abraham ( nabi Ibrahim ) menyerahkan kurban persembahan kepada Allah, dan diikuti oleh patung Nabi Musa saat akan menerima Sepuluh Perintah Allah.

Sepanjang dua kilometer Anda akan menikmati pemandangan Alam yang sangat indah sebagai latar belakang taman. Di sepanjang perjalanan itu Anda akan berjumpa dengan Gua Betlehem, 14 tahap perjalanan salib (Via Dolorosa), Gua Bunda Maria, Bukit Golgata, Gereja, Kuil Hindu, Lapangan manasik haji dan sebuah mesjid yang dilengkapi dengan fasilitas penginapan. Menurut Pemerintah Kabupaten Dairi Tujuan Pembangunan Taman Wisata Iman adalah agar pengunjung dapat menyaksikan, menikmati dan menghargai alam ciptaan Tuhan sehingga menumbuhkan rasa cinta pada lingkungan hidup, termotivasi untuk lebih meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, mempererat hubungan silaturahmi antar umat beragama serta untuk lokasi penyembuhan iman bagi korban pengguna narkoba.
3.KABUPATEN TAPANULI UTARA
Salib Kasih
Obyek wisata agama salib kasih Siatas Barita terletak di Kecamatan Siatas Barita. Kawasan obyek wisata ini merupakan tempat beristirahat pertama misionaris Nommensen setelah sampai di Rura Silindung pada 11 Nopember 1863.
Dari puncak bukit Siatas Barita, DR.Ingwer Ludwig Nommensen berdiri memandang ke arah Rura Silindung di bawahnya. Lama Ia terpaku dan takjub akan keindahan panorama Tano Batak.
Maka Iapun berdoa , "Hidup atau mati, biarlah aku tinggal di tengah-tengah bangsa ini untuk menyebarkan firmanmu dan kerajaanMu."
Demikianlah peristiwa pada tahun 1863, ketika missionaris agama Kristen asal Jerman itu mengawali babak kehidupan baru bagi orang-orang Batak yang belum mengenal agama Kristen. Nommensen wafat tanggal 23 Mei 1918, dimakamkan di desa Sigumpar sekitar 60 Km utara Tarutung. Pada tahun 1993/1994, sebagai penghormatan dan penghargaan atas jasa- jasanya, maka Pemda Tapanuli Utara membangun Salib Kasih dengan tinggi 31 meter di puncak bukit Siatas Barita. Pada waktu-waktu tertentu masyarakat Batak dan turis asing melakukan ibadah terbuka di tempat ini.
Obyek wisata ini merupakan primadona yang diminati dan ramai dikunjungi wisatawan manca negara maupun wisatawan lokal terutama pada hari-hari besar keagamaan dan libur



Wisata Alam
Sangat disayangkan bahwa pada umumnya adalah orang luar negeri (Benua Eropah, Amerika dan Australia) yang lebih mencintai alam kita yang kaya akan hutan tropis dengan kekayaan Flora dan Faunanya dari pada kita sendiri sebagai pemilik kekayaan itu.
Tahu kah anda bahwa Satwa Langka Orang Utan itu hanya di temukan di Indonesia dan Sumatera adalah salah satu pulau tempat hidupnya ? Bahkan berwisata menunggang gajah di habitatnya (bukan di kebun binatang) juga anda dapat melakukannya di sini? Tentunya sebagai pecinta wisata petualang anda akan kami bawa untuk menelusuri Taman Nasional Gunung leuser.
Danau Toba adalah sebuah danau dan Supervolcano. Danau yang sepanjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer, dan 505 meter (1.666 kaki) pada titik terdalam. Terletak di tengah bagian utara pulau Sumatera Indonesia dengan ketinggian permukaan sekitar 900 meter (2.953 kaki).
Danau Toba adalah tempat letusan supervolcanic yang terjadi 69,000-77,000 tahun yang lalu, sebuah acara besar perubahan iklim. Letusan tersebut diyakini telah memiliki intensitas VEI 8. Hal ini diyakini sebagai letusan eksplosif terbesar mana pun di bumi dalam 25 juta tahun terakhir. Menurut teori bencana Toba yang beberapa antropolog dan arkeolog berlangganan, itu konsekuensi global, menewaskan paling manusia kemudian hidup dan menciptakan hambatan populasi di Afrika Timur Tengah dan India yang mempengaruhi warisan genetik dari semua manusia hari ini. Teori ini bagaimanapun, telah banyak diperdebatkan karena tidak ada bukti atas penurunan hewan lainnya atau kepunahan, bahkan di lingkungan species. telah diterima bahwa letusan Toba menyebabkan musim dingin vulkanik dengan penurunan di seluruh dunia pada temperatur antara 3-5 derajat C.
Sebagai danau terbesar di Indonesia „Danau Toba „ adalah daerah tujuan wisata ketiga terbesar di Indonesia setelah Pulau Bali dan Jogjakarta. Dewasa ini banyak sekali orang eropah yang tinggal di sebuah pulau yang terletak di tengah danau tersebut yaitu Pulau Samosir sebagai pecinta alam dan budaya.
Di sebelah utara danau toba adalah salah satu kabupaten yang tanahnya sangat subur yaitu Tanah karo. Suku ini pada umumnya hidup dari sektor pertanian; mereka  hidup sebagai petani sayur mayur dan buah-buahan. Dalam paket-paket Wisata bersama Depary Adventure Team anda bahkan dapat mengunjungi lahan pertanian tersebut.
Dan jika anda ingin menikmati perjalanan wisata yang tidak sekedar melihat dan menikmati panorama alamnya, maka berpetualang adalah pilihannya dan sumatera utara dapat menjadi pilihan yang tepat untuk dijelajahi.
Sumatera utara dikenal memiliki berbagai obyek-obyek wisata alam yang sangat variatif, unik, menarik dan menantang untuk dijelajahi.

Dari keindahan dan keunikan gunung berapi, menyusuri sungai dengan berarung jeram, menjelajahi hutan di Taman Nasional, maupun aktifitas petualangan lainnya seperti bersepeda gunung, paralayang, menyusuri gua dan memanjat tebing dapat anda nikmati dengan mengeksplorasi pesona alam di propinsi ini.

Siapa yang tidak kenal Danau Toba, yang terbentuk dari letusan maha dasyat gunung api pada zaman purba. Posana keindahan dan keunikan alam dan budaya masyarakatnya tidak akan dapat selesai dijelajahi hanya dengan hitungan hari.
Di perbatasan Kabupaten Tobasa dan Asahan terdapat sungai Asahan dengan jeram-jeramnya yang liar dan ganas. Sungai ini bagi pehobi arung jeram termasuk dalam katagori kelas internasional.

TREKKING
Lokasi yang paling ideal untuk menjelajahi hutan adalah mengunjungi Taman Nasional Gunung Leuser. Sebagian kawasan Taman Nasional Gunung leuser berada di wilayah Sumatera Utara. Berbagai jenis satwa dan tumbuhan khas hutan hujan tropis dapat dijumpai di kawasan ini. Kawasan ini merupakan habitat dari lima jenis mamalia besar yang langka dan dilindungi, yaitu harimau, gajah, badak, orang utan dan beruang.
Terdapat dua pintu masuk utama bagi wisatawan untuk menjelajahi kawasan hutan taman nasional ini. Kedua tempat ini berada pada wilayah yang berbeda dengan keunikan dan daya tarik yang berbeda pula. Yang telah cukup dikenal adalah Bukit Lawang di Bohorok. Dapat dicapai sekitar 2 setengah jam dari kota Medan ke arah Bohorok. Di sana terdapat Pusat Rehabilitasi Orang Utan, yang merupakan satwa langka yang dilindungi. Sebagai fasilitas pendukung, disana juga tersedia penginapan dengan harga yang bervarasi.

MENDAKI GUNUNG
Jika anda hobi mendaki gunung, jangan tinggalkan kesempatan untuk mendaki puncak sibayak dan sinabung. Kedua gunung berapi yang masih aktif ini, termasuk gunung yang populer didaki oleh para wisatawan domestik maupun mamcanegara.
Gunung Sibayak terletak didataran tinggi Karo dengan ketinggian 2.094 meter dari permukaan laut. Puncak gunung ini ini bisa dicapai dari tiga jalur pendakian, yaitu : dari desa Raja Berneh (Semangat Gunung/Doulu), rute kedua dari kota Brastagi. Sedangkan rute ketiga adalah rute 54 (Panatapan) yang merupakan tempat persinggahan untuk beristirahat (rest area) di jalan lintas Medan - Brastagi. Di lokasi ini banyak terdapat warung-warung penjual jagung rebus dan jagung bakar. dua rute yang pertama termasuk katagori moderat, merupakan rute populer mendaki gunung Sibayak, dari rute ini puncak sibayak dapat dicapai sekitat 3 ? 4 jam pendakian. sedangkan rute ke tiga sedikit lebih menantang karena pendakian harus melintasi kawasan hutan sibayak dan sebagian pendaki lebih memilih berkemah di perjalanan sebelum melanjutkan perjalanan pada subuh esoknya untuk mendapatkan kesempatan menyaksikan sunrise atau matahari terbit dari puncak gunung.
Gunung sinabung tidak kalah menarik untuk didaki. Jalur yang umum dipilih oleh pendaki adalah melalui Lau Kawar. Lau kawar merupakan danau dataran tinggi yang memiliki panorama alam yang indah. Ada baiknya berkemah dulu ditepi danau sebelum mendaki puncak sinabung keesokan harinya. Dari danau ini puncak Sinabung dapat dicapai 3 ? 4 jam pendakian menyusuri hutan dan trek batu menanjak. Jika cuaca cerah, panorama danau toba akan terlihat di kejauhan. Sebuah pemandangan yang indah dan menakjubkan.

ARUNG JERAM
Salah satu yang mulai populer saat ini adalah kegiatan berarung jeram.
Kegiatan wisata berarung jeram ini dapat diikut berbagai kalangan dan lapisan masyarakat, tergantung dari tingkat kesluitan sungai yang diarungi. Di sumatera utara terdapat tiga sungai yang menjadi pilihan dalam wisata ini, yaitu sungai Asahan, wampu dan Bingei. Sungai Asahan tergolong ekstrem. Sungai ini memiliki tingkat kesulitan hingga kelas 5, jadi sebaiknya diikuti oleh para profesional atau yang sudah memiliki pengalaman. Sedangkan sungai Wampu dan Bingei termasuk katagori kelas 2 ? 3, jadi relatif aman untuk diarungi baik bagi pemula maupun anak-anak. Untuk anak-anak disarankan berumur 7 tahun ke atas.

Dengan perlengkapan yang standar, didampingi pemandu yang terlatih serta menerapkan prosedur keamanan dalam mengarungi sungai, dapat dijamin anda akan menikmati petualangan yang seru dan mengasyikan. Mengarungi sungai, menerjang jeram-jeram dan menikmati keindahan alam hutan, dan pedesaan membuat perjalanan berarung jeram menjadi suatu pengalaman yang mengesankan.

Berjarak 2 jam dari kota Medan, Sungai wampu yang berlokasi di Marike ? Langkat, merupakan tipe sungai dalam dan menawarkan pesona alam hutan tropis dan lembah sungai dengan tebing-tebing dan air terjun yang menawan. Dalam pengarungan, pemandu akan membawa anda menyinggahi dan mandi di sumber air panas dan anak sungai yang jernih dan tenang. Makan siang di tepi sungai merupakan paket special yang akan anda dapatkan dalam mengikuti wisata arung jeram di sungai wampu ini.

Tidak jauh dari Kota Binjai, terdapat satu lagi lokasi wisata arung jeram, yaitu di Sungai Bingei. Dari Medan hanya membutuhkan waktu satu jam perjalan naik kendaraan bermotor. Sungai Bingei memiliki karakter sebagai sungai dangkal bebatuan. Berair jernih dan memiliki jeram yang lumayan banyak, membuat pengarungan menjadi lebih menantang dan seru. Apalagi menjelang finish, pengarungan disudahi dengan meluncur di bendungan setinggi hampir 9 meter. Dengan kemiringan bendungan mencapai 45 derajat, dijamin momen ini akan memompa adrenalin anda lebih kencang lagi.

Wisata Religi
Selain berwisata alam anda juga dapat melakukan wisata Religi di sumata. Di kabupaten Dairi terdapat Taman Iman; Disini kita menjumpai 5 bangunan ibadah setiap agama yang di tata dengan apik oleh Pemerintah daerah. Lokasi ini sangat terkenal di nusantara dan sudah ramai di kunjungi oleh wisatawan. Selain itu di Sumatra juga anda dapat mengunjungi Pagoda (candi budha) terbesar di Indonesia,  Salib kasih di Tarutung, Retreat Center GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) di Sibolangit, Makam Misionaris Dr I.L Nomensen di desa Sigumpar-Tapanuli Utara dan juga Gereja Velancany, sebuah gereja khatolik yang sangat unik karena hampir menyerupai tempat ibadah umat hindu serta mesjid sultan deli di kota medan dan sultan langkat di Tanjung Pura-Kabupaten Langkat.
Nangro Aceh Darussallam adalah propinsi yang terletak di ujung utara pulau Sumatra. Agama Islam yang berkembang di Indonesia berasal dari wilayah ini dan kunjungan anda ke propinsi ini adalah juga termasuk kunjungan ke tempat-tempat bersejaran (Masjid dan makam-makam pembesar agama Islam di tanah Rencong). Selain itu juga saksi-saksi bisu bencana Tsunami dapat anda temukan disini.

SUMATERA BARAT
Sumatera Barat adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Sumatera dengan Padang sebagai ibu kotanya. Sesuai dengan namanya, wilayah provinsi ini menempati sepanjang pesisir barat Sumatera bagian tengah dan sejumlah pulau di lepas pantainya seperti Kepulauan Mentawai. Dari utara ke selatan, provinsi dengan wilayah seluas 42.297,30 km² ini berbatasan dengan empat provinsi, yakni Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan Bengkulu.
Sumatera Barat berpenduduk sebanyak 4.845.998 jiwa dengan sebagian besar beretnis Minangkabau yang seluruhnya beragama Islam, sedangkan sisanya tidak semuanya memeluk Islam. Provinsi ini terdiri dari 12 kabupaten dan 7 kota dengan pembagian wilayah administratif sesudah kecamatan di seluruh kabupaten (kecuali kabupaten Kepulauan Mentawai) dinamakan sebagai nagari—sebelumnya pada tahun 1979 diganti dengan desa, kemudian sejak 2001 dikembalikan ke nama semula.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, Sumatera Barat tercatat sebagai salah satu provinsi dengan jumlah kunjungan wisatawan terbanyak.[17] Sumatera Barat memiliki hampir semua jenis objek wisata alam seperti laut, pantai, danau, gunung dan ngarai, selain objek wisata budaya. Akomodasi hotel sudah mulai banyak mulai dari kelas melati sampai bintang empat. Untuk melengkapi fasilitas penunjang pariwisata, pemerintah juga menyediakan kereta api wisata yang beroperasi pada jam-jam tertentu.
Objek-objek wisata yang dikunjungi para wisatawan di antaranya, Jembatan akar di kecamatan Bayang; Rumah Gadang Mande Rubiah di Lunang; Istana Kerajaan Inderapura di kecamatan Pancung Soal; Pulau Cingkuak dengan peninggalan Benteng Belanda dan Puncak Langkisau di Painan, kabupaten Pesisir Selatan, Danau Maninjau dan Puncak Lawang Embum Pagi di kabupaten Agam, Lembah Anai; Istano Basa Pagaruyung, Danau Singkarak di kabupaten Tanah Datar, Danau Talang; Danau Diatas dan Danau Dibawah dikenal juga dengan sebutan Danau kembar di kabupaten Solok, Panorama Ngarai Sianok; Benteng Fort de Kock; Jam Gadang di kota Bukittinggi, Pantai Air Manis; Pantai Muaro; Pantai Caroline; Pulau Sikuai di kota Padang, Tempat wisata Harau di kabupaten Lima Puluh Kota, Tempat wisata Ngalau di kota Payakumbuh, Candi Padang; Prasasti Padang Roco di Kabupaten Dharmasraya, Pantai Kata; Pantai Gandoriah di kota Pariaman, Pantai Arta; Malibo Anai di kabupaten Padang Pariaman.
Sementara itu berbagai informasi dan literatur sejarah mengenai Sumatera Barat dan kebudayaan Minangkabau secara umum dapat dijumpai di Pusat Dokumentasi Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM), yang terletak di tengah-tengah objek wisata Perkampungan Minangkabau (Minangkabau Village) di kota Padang Panjang. Di PDIKM terdapat berupa dokumentasi foto mikrograf surat kabar, pakaian tradisional, kaset rekaman lagu daerah, dokumentasi surat-surat kepemerintahan dan alur sejarah masyarakat Minangkabau secara terperinci khususnya semenjak abad 18 (periode penjajahan Belanda) hingga era 1980'an. Selain itu sumber literatur lain dapat ditelusuri di Perpustakaan KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) dan di Perpustakaan Universitas Leiden, dua-duanya di Leiden, Belanda.
Adapun objek-objek Wisata di Sumatera Barat adalah:
PadangKota Padang adalah kota terbesar di pesisir barat pulau Sumatera sekaligus ibu kota dari provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Kota ini memiliki wilayah seluas 694,96 km² dengan kondisi geografi berupa daerah perbukitan yang ketinggiannya mencapai 1.853 m dpl. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, kota ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 833.562 jiwa yang didominasi oleh etnis Minangkabau. Agama yang dianut masyarakat di kota ini mayoritas Islam.
Sejarah kota Padang tidak terlepas dari peranannya sebagai kawasan rantau Minangkabau, yang berawal dari perkampungan nelayan di muara Batang Arau lalu berkembang menjadi bandar pelabuhan yang ramai setelah masuknya Belanda di bawah bendera Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Hari jadi kota ini ditetapkan pada 7 Agustus 1669, yang merupakan hari terjadinya pergolakan masyarakat Pauh dan Koto Tangah melawan monopoli VOC. Selama penjajahan Belanda, kota ini menjadi pusat perdagangan emas, teh, kopi, dan rempah-rempah. Memasuki abad ke-20, ekspor batu bara dan semen mulai dilakukan melalui pelabuhan Teluk Bayur.
Kota Padang terkenal akan legenda Sitti Nurbaya dan Malin Kundang, dan saat ini kota Padang sedang berbenah ke arah pembangunan kepariwisataan.
Kota ini memiliki sebuah museum yang terletak di pusat kota yang bernama Museum Adityawarman, yang memiliki gaya arsitektur berbentuk rumah adat Minangkabau (Rumah Gadang), model Gajah Maharam. Di halaman depan museum terdapat dua lumbung padi. Museum ini mengkhususkan diri pada sejarah dan budaya suku Minangkabau, suku Mentawai dan suku Nias. Museum ini memiliki 6.000 koleksi.
Di kawasan pelabuhan Muara banyak dijumpai beberapa bangunan peninggalan sejak zaman Belanda. Beberapa bangunan di kawasan tersebut ditetapkan pemerintah setempat sebagai cagar budaya. Di antaranya adalah Masjid Muhammadan bertarikh 1843, yang merupakan masjid berwarna hijau muda yang dibangun oleh komunitas keturunan India. Cagar budaya lain, Klenteng Kwan Im yang bernama See Hin Kiong tahun 1861 kemudian direnovasi kembali tahun 1905 setelah sebelumnya terbakar. Dari sehiliran Batang Arau, terdapat sebuah jembatan yang bernama jembatan Sitti Nurbaya. Jembatan itu menghubungkan sebuah kawasan bukit yang dikenal juga dengan nama Gunung Padang. Konon, pada bukit ini terdapat kuburan Sitti Nurbaya, tempat ini dikenal juga dengan nama Taman Sitti Nurbaya. Kawasan bukit ini juga dahulunya menjadi tempat pemukiman awal masyarakat etnis Nias di kota Padang.
Kemudian di pelabuhan Teluk Bayur terdapat beberapa kawasan wisata seperti pantai Air Manis, tempat batu Malin Kundang berdiri. Selain itu, terus ke selatan dari pusat kota juga terdapat kawasan wisata pantai Caroline, dan pantai Bungus, serta sebuah resort Wisata yang terletak di pulau Sikuai.   Terletak di Teluk Bungus,  25 km di selatan Kota Padang, dapat dicapai dengan taxi, mobil rental atau angkot jurusan Bungus. Dari Pantai ini wisatawan juga dapat menyewa motor boat atau perahu nelayan untuk  pergi ke pulau-pulau karang yang berada di depannya.Dan yang tidak kalah indahnya yaitu PANTAI CAROLINE karena Cuaca cerah membuat suasana pantai makin menggoda untuk dicumbui. Pasir putih dan ombak biru merayu siapa saja yang berkunjung siang itu ke Pantai Caroline—arah selatan Kota Padang. Pecahan ombak yang menyisir hingga tepian menyisakan buih-buih putih dan menyapu pasir pantai berwarna putih kecoklatan. Pantai nan landai dan rindangnya pepohonan menjadi daya tarik bagi setiap pengunjung. Keinginan untuk segera mencumbui airnya dan berlari di pasirnya nan halus kian tak tertahankan. Kawasan Caroline terbilang masih menyimpan potensi laut yang lebih baik ketimbang kawasan lain di sepanjang Pantai Padang.Kondisi hutan mangrove-nya masih sedikit terjaga. Alam bawah lautnya pun masih menarik untuk diselami. Tak jarang, para penyelam pemula masih sering memanfaatkan Pantai Caroline sebagai ajang sarana latihan snorkeling. Untuk scuba, para penyelam bisa melakukannya di beberapa pulau yang ada di kawasan Bungus.Pulau-pulau kecil yang terletak di kawasan Teluk Bunguih dan Perairan Kota Padang seperti Pulau Pisang Ketek, Pulau Pisang Gadang, Pulau Kasiak, Pulau Talena, Pulau Pasumpahan dan Pulau Sirandah, masih menjanjikan keindahan alam bawah laut. Aneka ragam terumbu karang dan ikan hias menjanjikan pemandangan yang menawan. Keindahan alam bawah laut tersebut menjadi surga untuk bersnorkeling ria bagi para penyelam. Puas berlatih menyelam dan di Pantai Caroline membuat perut akan terasa lapar.Keinginan untuk segera menikmati berbagai bentuk hidangan laut yang memancing selera tentunya menjadi kebutuhan mendasar. Di bibir Pantai Caroline, pengelola menyediakan beragam hidangan untuk dijadikan santapan siang. Tentunya dengan harga yang relatif terjangkau. Sehabis menikmati makanan yang didominasi hidangan laut, akan menyegarkan kembali kondisi tubuh yang kelelahan. Rindangnya pepohonan di sepanjang bibir Pantai Caroline menjadi tempat peristirahatan untuk melewati siang nan cerah.Dengan rajut yang diikatkan ke pepohonan, istirahat siang Anda akan terasa lebih menyenangkan. Semilirnya angin akan membuat mata terasa tak sanggup menahan kantuk. Berlama-lama beristirahat tentunya tidak diinginkan saat melakukan perjalanan wisata. Bersama rombongan, beragam permainan bisa dilakukan di sepanjang Pantai Caroline. Bermain bola kaki pun bisa dilakukan di sana. Bagi penyuka olahraga air, ombak di Pantai Caroline bisa menghibur.Pencinta olahraga surving, tentunya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mencandai ombak di Pantai Caroline. Pengunjung yang menyukai hobi memancing pun bisa melampiaskan kegemarannya di sekitar lokasi di Pondok Caroline. Banyak hal yang bisa dilakuikan di pantai nan landai tersebut. Tentunya, siapkan perlengkapan sebelum melakukan semua hobi Anda di sebelah selatan Kota Padang tersebut. Akses menuju Pantai Caroline bisa dilakukan dengan berbagai jenis kendaraan.Dengan angkot pun, lokasi yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pasisia Selatan tersebut juga bisa ditempuh. Makan waktu sekitar satu jam perjalanan paling lama dengan menggunakan kendaraan dari pusat kota. Di sana, pengunjung tidak perlu tergesa-gesa untuk beranjak pulang. Puluhan cottage disediakan oleh pengelola bagi para pengunjung. Dengan biaya relatif terjangkau, pengunjung bisa melalui malam dan menikmati angin laut di kawasan Pantai Caroline.
Sedangkan ke arah kecamatan Koto Tangah, terdapat kawasan wisata pantai Pasir Jambak, serta kawasan wisata alam Lubuk Minturun, yang populer dalam tradisi balimau dan ramai dikunjungi oleh masyarakat terutama sehari sebelum masuk bulan Ramadhan.
Kota ini juga terkenal akan masakannya. Selain menjadi selera sebagian besar masyarakat Indonesia, masakan ini juga populer sampai ke mancanegara. Makanan yang populer di antaranya seperti Gulai, Rendang, Ayam Pop, Terung Balado, Gulai Itik Cabe Hijau, Nasi Kapau, Sate Padang dan Karupuak Sanjai. Restoran Padang banyak terdapat di seluruh kota besar di Indonesia. Meskipun begitu, yang dinamakan sebagai "masakan Padang" sebenarnya dikenal sebagai masakan etnis Minangkabau secara umum.
Dalam mendorong pariwisata di kota Padang, pemerintah kota menggelar Festival Rendang untuk pertamakalinya pada tahun 2011, setelah sebelumnya Rendang dinobatkan oleh CNN International sebagai hidangan peringkat pertama dalam daftar World’s 50 Most Delicious Foods (50 Hidangan Terlezat Dunia). Festival yang dipusatkan di RTH Imam Bonjol tersebut diikuti oleh kelurahan se-Kota Padang dan berhasil memasak 5,2 ton daging, sehingga tercatat dalam Museum Rekor Indonesia sebagai perlombaan memasak dengan daging dan peserta terbanyak.


Bukit Tinggi
Pembangunan kepariwisataan merupakan salah satu sektor andalan bagi Kota Bukittinggi. Banyaknya objek wisata yang menarik, menjadikan kota ini dijuluki sebagai "kota wisata".
Ngarai Sianok merupakan salah satu objek wisata utama. Taman Panorama yang terletak di dalam kota Bukittinggi memungkinkan wisatawan untuk melihat keindahan pemandangan Ngarai Sianok. Di dalam Taman Panorama juga terdapat gua bekas persembunyian tentara Jepang sewaktu Perang Dunia II yang disebut dengan Lubang Japang.
Di Taman Bundo Kanduang terdapat replika Rumah Gadang yang berfungsi sebagai museum kebudayaan Minangkabau. Kebun Binatang Bukittinggi dan benteng Fort de Kock, dihubungkan oleh jembatan penyeberangan yang disebut Jembatan Limpapeh. Jembatan penyeberangan Limpapeh berada di atas Jalan A. Yani yang merupakan jalan utama di Kota Bukittinggi.
Pasar Ateh (Pasar Atas) berada berdekatan dengan Jam Gadang yang merupakan pusat keramaian kota. Di Pasar Ateh terdapat banyak penjual kerajinan tangan dan bordir,[34] serta makanan kecil oleh-oleh khas Sumatera Barat, seperti keripik sanjai (keripik singkong ala daerah Sanjai di Bukittinggi) yang terbuat dari singkong, karupuak jangek yang dibuat dari bahan kulit sapi atau kerbau, dan karak kaliang, sejenis makanan kecil khas Bukittinggi yang berbentuk seperti angka 8. Saat ini juga telah dibangun beberapa pusat perbelanjaan modern di Kota Bukittinggi.

Istana Pagaruyung

Istano Basa Pagaruyung terletak di Nagari Pagaruyung, Desa Balai Janggo Kecamatan Tanjung Emas , lebih kurang 4 km dari Batusangkar Kabupaten Tanah Datar. Replika  Istano Basa Pagaruyung yang sekarang adalah  duplikat dari Istano Rajo Alam atau Istana Kerajaan Minangkabau, yang dibakar saat kerusuhan pada tahun 1804. Terakhir, istana ini terbakar akibat tersambar petir, 27 Februari 2007. Replika ini nantinya difungsikan kembali sebagai pusat kebudayaan Minangkabau. Saat ini sudah selesai 90 persen, walaupun bangunan ini belum selesai 100 persen minat wisatawan asing untuk melihat dari dekat salah satu objek wisata budaya ini selalu ada. Istano Basa Pagaruyung terdiri dari bangunan induk dan halaman . Pada bangunan  induk terdiri 3 tingkat,  lantai 1 adalah tingkat dasar dengan labuah gajah, bandua tapi, bandua tangah, kamar, serambi, batu tapakan, dan dapur. Dapur terdiri dari selasar, ruang pendapuran, tungku dan selayan. Tingkat I atau lantai 2 bernama Anjuang Paranginan, tingkat  II atau lantai 3 bernama Mahligai. Pada halaman terdapat tabuah larangan, rangkiang patah IX, surau, tanjung mamutuih dan tapian mandi pincuran tujuh. Istano yang anda lihat sekarang dibuat dari kontruksi beton dan dilapisi luarnya dengan kayu surian yang sduah diukir ( penuh dengan motif ukiran )..Keunikan dari Istano ini adalah tiang – tiangnya yang tidak berdiri lurus tetapi miring kekiri dan ada miring ke kanan. Hanya ada satu tiang yang berdiri tegak lurus, tiang itu  disebut tiang utama atau tonggak tuo dimana tiang ini yang pertama terhujam ketanah dan ujung – ujungnya  menjulang keatas , sedangkan tiang –tiang lainnya sebagai penyangga tiang utama, sehingga bangunan ini kuat dan terhindar dari goncangan gempa.


Danau Maninjau
adalah sebuah danau di kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Danau ini terletak sekitar 140 kilometer sebelah utara Kota Padang, ibukota Sumatera Barat, 36 kilometer dari Bukittinggi, 27 kilometer dari Lubuk Basung, ibukota Kabupaten Agam.
Maninjau yang merupakan danau vulkanik ini berada di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut. Luas Maninjau sekitar 99,5 km² dan memiliki kedalaman maksimum 495 meter. Cekungannya terbentuk karena letusan gunung yang bernama Sitinjau (menurut legenda setempat), hal ini dapat terlihat dari bentuk bukit sekeliling danau yang menyerupai seperti dinding. Menurut legenda di Ranah Minang, keberadaan Danau Maninjau berkaitan erat dengan kisah Bujang Sembilan.
Danau Maninjau merupakan sumber air untuk sungai bernama Batang Sri Antokan. Di salah satu bagian danau yang merupakan hulu dari Batang Sri Antokan terdapat PLTA Maninjau. Puncak tertinggi diperbukitan sekitar Danau Maninjau dikenal dengan nama Puncak Lawang. Untuk bisa mencapai Danau Maninjau jika dari arah Bukittinggi maka akan melewati jalan berkelok-kelok yang dikenal dengan Kelok 44 sepanjang kurang lebih 10 km mulai dari Ambun Pagi sampai ke Maninjau.
Danau ini tercatat sebagai danau terluas kesebelas di Indonesia. Sedangkan di Sumatera Barat, Maninjau merupakan danau terluas kedua setelah Danau Singkarak yang memiliki luas 129,69 km² yang berada di dua kabupaten yaitu Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok. Di sekitar Danau Maninjau terdapat fasilitas wisata, seperti Hotel(Maninjau Indah Hotel, Pasir Panjang Permai) serta penginapan dan restoran.

Nanggroe Aceh Darussalam
Aceh yang mula-mula bernama Aceh Darussalam (1511-1959) selanjutnya pernah disebut dengan nama Daerah Istimewa Aceh (1959-2001) dan Nanggroe Aceh Darussalam (2001-2009) dan menjadi provinsi Aceh (2009-sekarang)adalah provinsi paling barat di Indonesia. Aceh memiliki otonomi yang diatur tersendiri, berbeda dengan kebanyakan provinsi lain di Indonesia, karena alasan sejarah.[12] Daerah ini berbatasan dengan Teluk Benggala di sebelah utara, Samudra Hindia di sebelah barat, Selat Malaka di sebelah timur, dan Sumatera Utara di sebelah tenggara dan selatan.
Ibu kota Aceh ialah Banda Aceh. Pelabuhannya adalah Malahayati-Krueng Raya, Ulee Lheue, Sabang, Lhokseumawe dan Langsa. Aceh merupakan kawasan yang paling buruk dilanda gempa dan tsunami 26 Desember 2004. Beberapa tempat di pesisir pantai musnah sama sekali. Yang terberat adalah Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Singkil dan Simeulue.
. Aceh juga terkenal dengan sumber hutannya, yang terletak di sepanjang jajaran Bukit Barisan, dari Kutacane, Aceh Tenggara, Seulawah, Aceh Besar, sampai Ulu Masen di Aceh Jaya. Sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) juga terdapat di Aceh Tenggara

Back to content